Petani Unggulan dan Penyuluh Swadaya: Harapan bagi Masyarakat Timor Tengah Selatan sebagai Penyambung Informasi Pengelolaan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu

Oleh: Riyandoko

Permasalahan Pengelolaan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu

 

foto: Riyandoko/World Agroforestry Centre (ICRAF)
Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang termasuk dalam wilayah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas sekitar 395.536 hektar ini berada pada ketinggian antara 40 – 1.600 m di atas permukaan laut (dpl). Kabupaten ini terbagi menjadi 32 kecamatan, 266 desa dan 12 kelurahan. Sebagian besar penduduknya menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian dan kehutanan, baik dalam bentuk kayu maupun hasil hutan bukan kayu (HHBK). Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) Timor Tengah Selatan tahun 2014, hasil kehutanan kayu masih didominasi oleh kayu rimba campuran dan kayu jati, sedangkan HHBK didominasi asam, kemiri dan madu. Meskipun kayu dan HHBK menjadi sumber penghidupan masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan, tetapi hingga saat ini belum memberikan manfaat secara optimal karena belum dikelola secara terintegrasi dan berkelanjutan. Salah satu contoh, masyarakat telah membudidayakan tanaman jati putih (Gmelina arborea) di lahannya, tetapi mereka belum melakukan pemeliharaan tanaman seperti pemangkasan cabang dan penjarangan pohon. Bahkan mereka belum memperhatikan jarak tanam antar pohon.
Pengaturan jarak tanam dan pemeliharaan tanaman belum dilakukan oleh masyarakat, terutama petani skala kecil karena mereka memang belum memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan tanaman. Kurangnya akses informasi dan inovasi pengelolaan tanaman kayu maupun integrasi antara kayu dan HHBK terjadi akibat rendahnya kuantitas, intensitas dan kualitas penyuluhan kehutanan di daerah tersebut. Dari studi mengenai kebutuhan dan tantangan penyuluhan oleh program KANOPPI – ACIAR FST 2012-039 pada tahun 2014 dengan melakukan wawancara terhadap 129 responden menunjukkan bahwa petani yang mendapatkan layanan penyuluhan di Kabupaten Timor Tengah Selatan hanya sebesar 14,73%. Materi penyuluhan yang diterima adalah tentang pertanian dan tanaman pangan yang dinilai kurang relevan dengan pengembangan produk hasil kehutanan kayu dan HHBK.
Selain materi penyuluhan yang kurang relevan, keterbatasan jumlah penyuluh kehutanan juga menjadi penyebab rendahnya akses petani terhadap layanan penyuluhan kehutanan. Menurut Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kabupaten Timor Tengah Selatan, jumlah penyuluh kehutanan pemerintah pada tahun 2015 sebanyak 16 orang yang terdiri dari 12 laki-laki dan 4 perempuan. Melihat jumlah kecamatan di kabupaten ini, maka rata-rata satu penyuluh bekerja di dua kecamatan. Luasnya area kerja mereka berakibat pada rendahnya jangkauan layanan penyuluhan, terutama ke wilayah terpencil seperti di Kecamatan Fatumnasi dan Mollo Utara yang terletak di sekitar Pegunungan Mutis. Sefuat Tauesib, petani dari Desa Bosen, Kecamatan Mollo Utara mengatakan bahwa penyuluhan terakhir di dusunnya dilakukan pada tahun 2012. Setelah pergantian petugas penyuluh, tidak ada kegiatan penyuluhan sampai dengan sekarang.

Potensi petani unggulan dan penyuluh swadaya sebagai penyambung informasi

Undang-Undang No 16 tahun 2016 tentang sistem penyuluhan, pertanian, perikanan dan kehutanan di Indonesia mengatur bahwa selain dilakukan oleh penyuluh pemerintah, penyuluhan juga dapat dilakukan oleh penyuluh swadaya dan penyuluh swasta. Penyuluh swadaya adalah pelaku pertanian, perikanan atau kehutanan yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh. Meskipun telah disebutkan dalam peraturan perundangan, namun menurut Ibu Mariah Elisabeth Magang, Koordinator Penyuluh Kehutanan pada BKPP Kabupaten Timor Tengah Selatan, hingga saat ini belum ada penyuluh kehutanan swadaya yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah daerah atau bupati. Namun, di setiap desa/ kelurahan ada satu orang petani unggulan yang selama ini menjadi ‘orang kunci’ yang selalu dihubungi ketika BKPP dan Dinas Kehutanan melakukan penyuluhan atau menyelenggarakan program-program kehutanan.
Jika petani unggulan tersebut dibina untuk menjadi penyuluh kehutanan swadaya, maka di Kabupaten Timor Tengah Selatan minimal ada 278 petani unggulan yang berpotensi menjadi penyuluh kehutanan swadaya. Jumlah yang cukup ideal untuk mendukung penyuluh kehutanan pemerintah dalam menyebarkan informasi dan inovasi.

Peningkatan kapasitas petani unggulan dan penyuluh swadaya

Melihat jumlah petani unggulan yang berpotensi mendukung layanan penyuluhan kehutanan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, maka program KANOPPI –ACIAR FST 2012-039 mengambil kesempatan untuk memanfaatkan peluang tersebut. Bekerjasama dengan Dinas Kehutanan dan BKPP Kabupaten Timor Tengah Selatan, program KANOPPI –ACIAR FST 2012-039 menyelenggarakan Pelatihan bagi Petani Unggulan dan Penyuluh Swadaya. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani unggulan yang nantinya diharapkan menjadi penyuluh kehutanan swadaya mengenai hasil kehutanan kayu dan HHBK agar dapat mendukung penyebaran informasi dan inovasi.
Pelatihan dilaksanakan antara tanggal 20 - 23 Oktober 2015 di Balai Penyuluhan Kecamatan Mollo Utara, diikuti oleh 24 peserta yang terdiri dari 18 petani unggulan dari Desa Bosen, Desa Netpala dan Desa Ajobaki yang diproyeksikan menjadi penyuluh kehutanan swadaya dan 6 penyuluh pemerintah yang bertugas di Kecamatan Mollo Utara dan Kecamatan Fatumnasi. Materi yang sampaikan dalam pelatihan yaitu: (a) pengantar mengenai hasil kehutanan kayu dan hasil hutan bukan kayu; (b) kebijakan tentang penata-usahaan hasil hutan hak yang mencakup tatacara mengajukan Nota Angkut Sendiri dan Surat Keterangan Asal Usul untuk hasil hutan hak; (c) budidaya tanaman kayu; (d) pengelolaan kebun integrasi kayu dan hasil hutan bukan kayu; (e) pengantar mengenai pemasaran hasil kehutanan kayu dan hasil hutan bukan kayu; (f) komunikasi dan cara menyebar-luaskan informasi melalui penyuluhan.
Proses belajar pada pelatihan ini dibagi dalam tiga tahap yaitu: (1) pengantar materi yang dilakukan di dalam ruang kelas dengan metode ceramah, diskusi kelompok, presentasi hasil, simulasi dan bermain peran. Bermain peran merupakan salah satu metode yang antusias diikuti oleh peserta di dalam ruangan. Suasana ceria dan dialog dengan bahasa setempat memudahkan peserta dalam memahami materi, (2) kunjungan lapangan, dilaksanakan di Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dikelola oleh Kelompok Tunas Baru, Desa Netpala Mollo Utara. Metode belajar yang digunakan dalam kunjungan lapangan yaitu: pengamatan, wawancara, diskusi kelompok, dan presentasi hasil. Melalui kunjungan lapangan ini peserta pelatihan dengan mudah dapat membedakan hasil kehutanan kayu dan HHBK serta memperoleh gambaran mengenai pengelolaan secara tumpang sari (terintegrasi), dan (3) refleksi yang berupa evaluasi, pembahasan dan perumusan.
Hasil evaluasi penyelenggaraan pelatihan menunjukkan bahwa pemangkasan cabang dan penjarangan pohon pada budidaya tanaman kayu merupakan materi yang paling banyak disukai oleh peserta. Hal ini menunjukan bahwa materi dan informasi tentang budidaya kayu sangat diperlukan oleh petani, karena berhubungan dengan praktik pekerjaan mereka sehari-hari yang selama ini masih kurang dipahami oleh petani akibat kurangnya informasi yang diperoleh dari penyuluhan. Dalam pelatihan ini peserta laki-laki masih mendominasi terutama pada sesi diskusi kelas. Peserta laki-laki dan perempuan secara umum dapat berkerja sama dalam kelompok dengan pembagian peran. Peserta perempuan lebih aktif dalam menyampaikan pendapat dan menuliskan hasil diskusi.
Peserta menilai bahwa pelatihan ini penting untuk diri mereka sendiri, teman dan bagi petani pada umumnya. Mereka berpendapat bahwa pelatihan ini secara spesifik memberikan manfaat dalam hal: (a) menambah ilmu pengetahuan mengenai kayu dan hasil hutan bukan kayu, (b) mengetahui tentang tatacara menjual kayu yang diperoleh dari hasil hutan hak, (c) mengetahui tanaman tarum dan manfaatnya, (d) mengetahui tatacara budidaya tanaman kayu, dengan pemangkasan cabang dan penjarangan dan (e) belajar menyampaikan materi. Secara umum, pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan motivasi peserta untuk mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, peningkatan keterampilan dan perubahan sikap belum dapat diketahui pada akhir pelatihan ini.

Rencana tindak lanjut

Dari pelatihan yang telah mereka ikuti, selajutnya peserta membuat rencana tindak lanjut yang diidentifikasi berdasarkan kebutuhan peserta akan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan. Rencana tindak lanjut yang diharapkan peserta pelatihan antara lain: praktik pemangkasan cabang pada pohon kayu; kegiatan praktik budidaya tanaman tarum (Indigofera); pelatihan pembuatan warna dari tanaman tarum; dan praktik penanaman kayu di kebun.

Agroforestri di Lahan Mbaon: Alternatif Petani untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul

Oleh: Aris Sudomo dan Diana Prameswari
Kondisi lahan mbaon yang dikelola oleh masyarakat dengan sistem agroforestri minyak kayu putih dengan tanaman pangan padi/palawija | foto: Aris Sudomo



“Sumeleh: hati selalu tentram, mensyukuri rezeki yang diterima apa adanya dan mengharapkan curahan doa dari anak cucu, merupakan prinsip hidup Mbah Kromo agar panjang umur.” 
Di usianya yang bisa dibilang memasuki masa senja yaitu lebih dari 80 tahun, Kromo Yono Sarino atau biasa dipanggil Mbah Kromo, masih giat bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bersama istri dan salah satu anaknya, Riyadi, Mbah Kromo yang telah menggeluti profesinya sebagai petani sejak muda mengelola lahan seluas seperempat hektar milik keluarganya di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul untuk menanam jati. Sementara, anak–anaknya yang lain merantau ke kota untuk mencari penghidupan yang dianggap lebih sesuai

Permasalahan Praktik Agroforestri Tanaman Pangan di Desa Bejiharjo

Sampai saat ini Mbah Kromo enggan menanam padi, palawija atau tanaman pangan lain di lahannya, karena menurut Mbah Kromo, tanaman pangan seperti padi dan palawija tidak bisa tumbuh dengan baik di bawah tajuk tanaman jati.
Petani lain di Desa Bejiharjo berpendapat serupa dengan Mbah Kromo. Mereka hanya dapat menanam tanaman pangan pada lahan terbuka, kecuali jika jati ditanam di pinggir sebagai pembatas lahan. Lahan yang telah dipenuhi dengan tegakan jati tidak bisa lagi ditanam tanaman pangan (Gambar 1). Ada dua alasan yang mereka sampaikan, yaitu: (1) pekerjaan menjadi lebih berat sehingga memerlukan tenaga dan pupuk lebih banyak, dan (2) hasil yang diperoleh pada lahan di bawah tegakan jati lebih kecil dibandingkan dengan di tempat yang lebih terbuka.
Rendahnya hasil panen tanaman pangan pada lahan yang dikelola dengan sistem agroforestri berbasis jati tersebut menjadi permasalahan bagi petani di Desa Bejiharjo. Apalagi lahan yang mereka miliki relatif sempit, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan jangka pendek petani. Hal ini menjadi pemicu tingginya kebutuhan lahan di luar lahan milik.

Lahan Mbaon Sebagai Alternatif Dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan


Kiri - Kanan: Hasil panen petani dari lahan mbaon: (a) singkong atau ketela yang sedang dijemur untuk pengawetan; (b) singkong kering yang dikenal dengan istilah gaplek sebagai salah satu sumber pangan; (c) jagung sebagai salah satu palawija sumber pangan;
(d) ternak sapi yang dipelihara petani dengan memanfaatkan hasil sampingan dari lahan mbaon


Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHK) Dinas Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta mengelola hutan produksi di Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunungkidul dengan komoditas tanaman kayu putih. Di hutan produksi ini petani diberikan hak untuk memanfaatkan lahan selama periode tertentu dengan menanam tanaman pangan di bawah tegakan kayu putih (sistem agroforestri). Sistem pengelolaan seperti ini di Desa Bejiharjo dikenal sebagai lahan mbaon.
Di Desa Bejiharjo, petani diberi hak mengelola lahan mbaon hingga lima belas tahun, yang umumnya dimanfaatkan untuk menanam padi dan palawija di bawah tegakan kayu putih sebagai tumpuan harapan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Menurut Mbah Kromo, “Mboten gadah mbaon, mboten gadah pangan” (“Tidak punya mbaon, tidak punya pangan”). Jika mereka tidak punya lahan mbaon maka tidak bisa menanam padi dan palawija sebagai sumber pangan. Riyadi anak Mbah Kromo melengkapi pernyataan ayahnya dengan menyebutkan bahwa 90% hasil pangan di desanya berasal dari lahan mbaon. Oleh karena itu, lahan mbaon merupakan tumpuan hidup bagi petani di Bejiharjo.
Praktik agroforestri pada lahan mbaon dilakukan petani sebagai bentuk kearifan lokal mereka untuk memanfaatkan lahan di bawah tegakan kayu putih dengan menanam Pada dan palawija seperti jagung, kacang tanah dan singkong. Pemupukan pada tanaman palawija akan mempengaruhi tanaman ketela. Pada saat musim penghujan petani bisa panen 2 kali, karena jangka panen relatif pendek yaitu 3 bulan sehingga dapat memenuhi kebutuhan saat ini.
Riyadi mengelola lahan mbaon seluas 1,5 ha yang selama musim penghujan dapat menghasilkan 2 kali panen padi, karena masih mengandalkan sistem tadah hujan. Pada saat musim kemarau lahan mbaon tidak bisa ditanami padi, tetapi ditanami palawija, seperti kacang tanah dan kedelai untuk menghasilkan pangan langsung. Hasil panen berupa padi, jagung dan singkong yang dikeringkan atau disebut gaplek, sebagian disimpan untuk persediaan pada saat musim kemarau dan sebagian lagi dijual.
Selain bercocok tanam, petani di Desa Bejiharjo juga memelihara ternak sapi maupun ayam. Hasil sampingan dari tanaman pangan dan palawija yang berupa tongkol kosong atau disebut jangle dan daun jagung dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi dan campuran pembuatan pupuk kompos. Sementara, biji jagung juga digunakan sebagai pakan ayam.
Ternak sapi yang mereka pelihara menghasilkan pupuk kandang untuk mendukung kegiatan pertanian tanaman pangan di lahan mbaon. Seekor sapi mampu menghasilkan pupuk kandang sebanyak 6 rit per tahun, dengan harga per rit sekitar Rp200.000.
Lahan mbaon tidak hanya menghasilkan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan petani di Desa Bejiharjo, tetapi juga menjadi sumber bahan bakar untuk keperluan sehari-hari di dapur, yaitu untuk memasak. Petani pengelola lahan mbaon dapat memperoleh kayu bakar dari ranting-ranting kayu putih yang telah kering.

Prospek Budidaya Bambu Apus (Gigantochloa apus) di Gunungkidul

Oleh: Aris Sudomo* dan Gerhard Manurung

 

Industri Kerajinan Bambu Di Gunungkidul

Gambar 1. Aneka produk kerajinan industri bambu di Gunungkidul; Kiri-Kanan: box; tampah (nyiru); sangkar burung; tempat kado, tempat tisu, pot bunga; dan mangkuk, asbak, nampan | foto: Aris Sudomo


Geliat industri kerajinan bambu di Kabupaten Gunungkidul semakin berkembang, mulai dari industri rumah tangga sampai industri menengah yang menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Industri kerajinan bambu di Kabupaten Gunungkidul tersebar di beberapa kecamatan seperti Paliyan, Patuk dan Karangmojo. Produk dari industri kerajinan tersebut adalah peralatan rumah tangga seperti anyaman bambu, tampah, piring, kotak kado, asbak, tempat tisu, nampan dan sangkar burung (Gambar 1) untuk dijual keluar daerah, bahkan keluar negeri sebagai produk eksport. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pemasaran kerajinan bambu sangat terbuka lebar. Meskipun demikian, geliat perkembangan industri kerajinan bambu ini belum didukung oleh ketersediaan bahan baku di Gunungkidul karena kualitas bambu yang dihasilkan masih belum memenuhi persyaratan industri.

Spesifikasi Bambu untuk Industri

Gambar 2. Kiri: Spesifikasi bahan baku bambu apus untuk industri di Gunungkidul (panjang buku/ruas 52 cm-58 cm), tidak getas dan mudah dibentuk. Kanan: Kondisi rumpun bambu di masyarakat dan bambu hasil panen | foto: Aris SudomoAdd caption

Bambu apus merupakan jenis bambu yang dipilih sebagai bahan baku untuk industri kerajinan di Gunungkidul. Namun tidak semua bambu apus dapat digunakan sebagai bahan baku industri kerajinan dan peralatan rumah tangga. Bahan baku industri ini menuntut persyaratan spesifikasi tertentu, yaitu bambu yang mempunyai panjang ruas (buku) minimal 52 cm dengan panjang ruas ideal antara 52–58 cm, tidak mudah pecah dan mudah dibentuk (Gambar 2 Kiri). Bahan baku bambu apus dengan spesifikasi tersebut saat ini diperoleh dari luar Gunungkidul, antara lain dari Sidoarjo, Magelang dan Boyolali dengan harga yang lebih mahal yaitu Rp12.000 per batang. Sementara, harga bambu lokal dari Gunungkidul berkisar antara Rp3.000 sampai dengan Rp6.000 per batang.

Bambu Apus di Gunungkidul

Bambu apus umumnya ditanam di pekarangan masyarakat Kabupaten Gunungkidul, seperti di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Tiap-tiap rumah tangga memiliki 3–8 rumpun bambu dengan jumlah batang per rumpun antara 5–50 batang, rata-rata lebih dari 10 batang per rumpun, tergantung umur rumpun (Gambar 2 Kanan).
Masyarakat umumnya menanam bambu untuk memenuhi kebutuhan sendiri seperti membuat rumah dan kandang ternak. Mereka belum berorientasi pada pasar, bahkan mereka masih membeli dari tetangga ketika bambu di pekarangannya tidak mampu mencukupi kebutuhan. Rumpun-rumpun bambu yang mereka miliki relatif kurang dipelihara dan hanya dibiarkan tumbuh secara alami. Jika dilakukan pemeliharaan hanyalah sebatas pembersihan rumpun dari ranting-ranting. Bambu yang dihasilkan di Gunungkidul umumnya memiliki ruas kurang dari 49 cm, sehingga tidak memenuhi spesifikasi untuk industri kerajinan bambu.
Di Gunungkidul, bambu dipanen pada umur antara 1–1,5 tahun, karena pemanenan yang terlalu muda menyebabkan daya tahan bambu kurang. Semakin tua umur bambu saat dipanen, semakin tahan lama. Bambu untuk bahan bangunan rumah minimal dipanen pada umur satu tahun, untuk industri kerajian 1,5 tahun dan 2–3 tahun untuk pembuatan mebeler. Selain umur panen, waktu pemanenan yang tepat juga mempengaruhi tingkat keawetan bambu. Bambu sebaiknya dipanen pada akhir musim hujan menjelang kemarau. Pemanenan dilakukan antara jam 9–12 siang pada saat proses fotosintesa berjalan. Petani menerapkan waktu pemanenan tersebut karena belum ada teknologi khusus yang diaplikasikan untuk pengawetan bambu. Waktu panen yang kurang tepat menyebabkan bambu mudah terserang hama penggerek batang.

Strategi Pengembangan Budidaya Bambu Apus di Gunungkidul

Gambar3. Kelemahan, kekuatan, peluang dan tantangan pengembangan budidaya
bambu apus di Gunungkidul
Melihat kenyataan bahwa sebenarnya bambu apus tersedia di Gunungkidul, tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kerajinan, karena spesifikasi yang tidak memenuhi persyarakatan, yaitu perbedaan panjang ruas bambu sekitar 3 cm, maka perlu strategi pengembangan. Strategi pengembangan budidaya bambu apus perlu dilakukan agar bambu apus yang telah tersedia dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat dari keberadaan industri kerajinan bambu di Kabupaten Gunungkidul. Strategi pengembangan budidaya bambu apus dilakukan melalui identifikasi dan analisis terhadap kelemahan, kekuatan, peluang dan tantangan (Gambar 3).
Berdasarkan kelemahan, kekuatan, peluang dan tantangan yang telah diidentifikasi, maka strategi pengembangan budidaya bambu diarahkan agar:
  1. 1. Mengubah pola budidaya dari subsisten ke komersial melalui perbaikan teknik budidaya bambu untuk menghasilkan kualitas bambu sesuai spesifikasi industri
  2. 2. Penguatan kelompok tani bambu dalam pemasaran bambu dan peningkatan akses informasi melalui pembentukan koperasi
  3. 3. Pemenuhan bahan baku industri dari bambu lokal dengan pembentukan jaringan pemasaran
  4. 4. Negosiasi dengan pelaku industri untuk memberikan toleransi terhadap spesifikasi bahan baku industri sesuai dengan kualitas bambu lokal, yaitu dengan membuat produk industri bambu sesuai kualitas bahan baku bambu lokal.

Perbaikan Teknik Budidaya sebagai Strategi dalam Peningkatan Kualitas Bambu Apus

Perbaikan teknik budidaya ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas bambu selain kondisi kesuburan tanah, curah hujan, kelembaban dan genetik. Perbaikan teknik budidaya yang saat ini sedang dalam proses penelitian adalah penjarangan dan pemupukan terhadap rumpun-rumpun bambu yang relatif dibiarkan tapa pemeliharaan. Harapannya, perbaikan kualitas tempat tumbuh dengan penjarangan dan pemupukan akan mampu memperbaiki kualitas bambu yang dihasilkan.
Penelitian dilakukan pada rumpun bambu apus milik masyarakat di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo dengan tiga tingkat pemupukan, yaitu: (1) tanpa pupuk, sebagai kontrol, (2) pupuk kandang 1 karung (30 kg) per rumpun, dan (3) pupuk N (Urea) 1,2 kg per rumpun + P (SP36) 0,25 kg per rumpun + pupuk kandang 1 karung (30 kg) per rumpun. Sementara, penjarangan dilakukan pada tiga tingkat, yaitu: (1) tanpa penjarangan, sebagai kontrol, (2) penjarangan dengan menyisakan 5 batang dari tunas baru per tahun, (3) penjarangan dengan menyisakan 10 batang dari tunas baru per tahun (Gambar 6). Hasil penelitian ini masih dalam proses analisa.

* Peneliti Balai Penelitian Teknologi Agroforestry, Jalan Raya Ciamis – Banjar KM 4, PO. BOX 5 Ciamis 46201.

Kayu Ules dan Kayu Angin: Bahan Baku Obat-Obatan Potensial di Kabupaten Timor Tengah Selatan

Oleh: Aulia Perdana dan Tony Cunningham* 


Buah kayu ules sedang dijemur oleh pedagang | foto: Tony Cunningham
Kayu ules (Helicteres isora) dan kayu angin (Usnea barbata) adalah tumbuhan yang dimanfaatkan oleh dua produsen industri jamu terkemuka di Indonesia, yaitu PT. Sidomuncul dan PT. Jamu Ny. Meneer. Kedua jenis tanaman tersebut ditemukan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kayu ules tumbuh tersebar di kebun masyarakat dan di pinggiran hutan, sedangkan kayu angin yang berupa lumut tumbuh menggantung pada pohon-pohon di hutan dataran tinggi dengan ketinggian di atas 1.000 m di atas permukaan laut (dpl) di kawasan cagar alam Gunung Mutis.


Kayu ules

Kiri: Buah kayu ules. Kanan: Buah kayu
ules kering | foto: Tony Cunningham
Kayu ules adalah tumbuhan perdu berbentuk semak dengan tinggi mencapai delapan meter, berbatang basah, kulit kayu berserat dan berwarna abu-abu. Bunga berwarna merah bata dan buahnya terbentuk dari lima helai daun yang mengumpul seperti terpilin, memutar seperti sekrup dengan ujung runcing dan membentuk tabung. Dalam tiap tabung terdiri dari satu baris biji kecil-kecil warna coklat tua. Buah yang mentah berwarna kehijauan dan berubah menjadi abu-abu atau coklat tua saat mengering Buah kayu ules memiliki beberapa komponen kimiawi, antara lain alkaloid (15–25%), saponin  (20–30%), fitosterol (3–10%), flobatanin (3–8%), asam hidroksi-karboksilat (2–7%) dan gula (37–45%). Kandungan ini berkhasiat untuk membangkitkan nafsu makan, obat cacingan, anti konvulsan, obat kejang perut, dan sebagai tonik sehabis bersalin. PT Sidomuncul menggunakan kayu ules ini untuk produk herbal Tolak Angin. Komposisi ekstrak buah kayu ules yang digunakan adalah sebesar 10% dan dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti adas, daun cengkeh, dan jahe.

Kayu angin

Kayu angin termasuk jenis lumut yang tumbuh menggantung pada pepohonan di hutan dataran tinggi pada ketinggian di atas 1.000 m dpl. Tumbuhan ini berbentuk mirip dengan benang tebal berwarna hijau kelabu atau putih keabu-abuan dan dapat mencapai panjang 30 cm dengan posisi menjuntai. Di kawasan cagar alam Gunung Mutis yang memiliki ketinggian di atas 1.600 m dpl, kayu angin ditemukan menggantung pada pohon cemara dan kayu putih.
Kayu angin mengandung bahan kimia asam usnin, asam barbotolat, asam usnetin, dan asam barbatin. Industri jamu memanfaatkannya sebagai obat herbal untuk masuk angin, disentri, sariawan, peluruh air seni, batuk, pegal-pegal, dan diare.

Kiri: Kayu angin yang menggantung pada pepohonan di hutan pegunungan | foto: Subekti Rahayu;
Kanan: kayu angin yang menempel pada batang pohon | foto: http://amc-nh.org/resources/guides/lichens/species-gallery.php?Species=Usnea%20sp)

Potensi kayu ules dan kayu angin di Timor Tengah Selatan

Kajian yang dilakukan oleh para peneliti dari Kanoppi menemukan bahwa pemanenan kayu ules di wilayah Timor bagian barat mencapai 80 ton per tahun dengan nilai sekitar Rp590 juta. Pemanenan dilakukan oleh para pengumpul dari pertumbuhan alami antara Bulan Mei dan Juni. Pengumpul menjual kayu ules ke pedagang di tingkat desa seharga Rp4.000 per kilogram dan selanjutnya sampai ke pemasok antar provinsi yang menjual ke perusahaan jamu seharga Rp20.000 per kilogram. Pemasok dari Surabaya ada yang mengimpor kayu ules dari India, karena jumlah kayu ules dari Timor belum mencapai kuota. Namun buah kayu ules dari India ini tidak memenuhi standar. Standar buah kayu ules yang diminta adalah buah kering dengan kadar air kurang dari 10%, bentuk buah utuh, kenyal, dan tidak berjamur. Sementara, buah kayu ules dari India yang dikirim oleh pemasok umumnya mudah hancur dan berjamur. Hingga saat ini, lebih dari separuh kebutuhan kayu ules untuk industri jamu di Indonesia dipasok dari India.
Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, kayu ules ini belum dibudidayakan oleh masyarakat karena belum mengetahui manfaat dan nilai ekonominya. Pengiriman contoh buah kayu ules dari Timor Tengah Selatan oleh peneliti pemasaran Kanoppi ke PT Sidomuncul akhir tahun 2015 disambut dengan antusias oleh pihak perusahaan, yang kemudian menanyakan peluang pembelian langsung dari petani binaan Kanoppi. Artinya, ada potensi pemanfaatan kayu ules yang tumbuh di lahan masyarakat maupun di hutan sebagai hasil hutan bukan kayu. Potensi ini dapat dikembangkan melalui peningkatan kapasitas petani, khususnya dalam proses pengolahan buah kayu ules agar memperoleh buah kering yang memenuhi kualitas standar.
Tumbuhan kayu angin yang tumbuh di kawasan cagar alam Gunung Mutis juga belum dimanfaatkan oleh masyarakat karena pertumbuhannya lama dan pemanenannya sulit. Sulitnya pemanenan ini menyebabkan ketersediaan kayu angin rendah sehingga harganya menjadi relatif tinggi, yaitu sekitar Rp60.000 per kilogram di tingkat pedagang, dan belakangan ini cenderung naik. Sulitnya pemanenan terkadang menjadi pemicu penebangan pohon tempat tumbuh kayu angin dan berakibat pada kerusakan ekosistem hutan. Oleh karena itu, pemanenan kayu angin di hutan sekitar Desa Fatumnasi tidak dianjurkan. Agar ekosistem hutan tetap terjaga, tetapi kayu angin dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan masyarakat maka diperlukan kajian mengenai teknik pemanenan kayu angin tanpa menebang pohon tempat tumbuhnya.

*  School of Plant Biology, University of Western Australia, Crawley, Australia