Kiat-kiat pelaksanaan penyuluhan agroforestri berbasis penelitian

5/05/2017 0 Comments

Oleh Endri Martini


Penyuluhan agroforestri sama halnya dengan penyuluhan lainnya, hendaknya dilakukan berdasarkan informasi-informasi yang berkualitas dan terkini dari hasil penelitian, atau dengan kata lain berbasiskan hasil penelitian. Melalui penyuluhan agroforestri berbasis penelitian, petani akan mendapatkan informasi dan teknologi yang tepat untuk diujicobakan di kebunnya. Sehingga petani dapat mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam meningkatkan hasil produksi kebun yang dikelolanya. Namun, penyuluhan tentang agroforestri yang berbasis hasil penelitian masih mengalami berbagai tantangan, salah satunya adalah terbatasnya akses penyuluh terhadap informasi hasil-hasil penelitian karena kurangnya komunikasi dan interaksi antara lembaga penelitian dengan badan-badan penyuluhan. Dalam menjawab tantangan tersebut, lembaga penelitian memiliki peran penting dalam mendukung penyebaran informasi hasil penelitian terbaru, selain sebagai penghasil inovasi. World Agroforestry Centre (ICRAF) –yang merupakan lembaga penelitian internasional tentang agroforestri- memiliki peran sebagai peneliti yang juga menjembatani penyebaran hasil penelitiannya sejak tahun 1993, yaitu sejak pertama kali melakukan kegiatan di Indonesia. Dalam kurun waktu 24 tahun, ICRAF telah bekerjasama dengan berbagai lembaga di Indonesia dan melakukan berbagai penelitian dan pengembangan agroforestri, mulai dari aspek biofisik pada tingkat kebun hingga kebijakan dalam tataran tata kelola. Hasil-hasil penelitian tersebut disebarluaskan secara langsung melalui seminar, pertemuan dengan para pengambil keputusan, media massa dan didokumentasikan  dalam buku-buku yang dibagikan ke pihak-pihak terkait. Hasil penelitian tersebut juga diinformasikan kepada petani melalui proyek yang diimplementasi oleh ICRAF berupa program-program penyuluhan berbasis hasil penelitian untuk peningkatan pengetahuan dan kapasitas petani serta penyuluh. Harapannya hal tersebut dapat meningkatkan akses para pelaku penyuluhan terhadap informasi inovasi agroforestri.

Pelaksanaan penyuluhan agroforestri berbasis hasil penelitian yang dilakukan oleh ICRAF


ICRAF bekerja secara intensif dengan petani dan penyuluh dalam beberapa proyek penelitian dan pengembangan. Salah satunya adalah proyek AgFor Sulawesi (Agroforestry and Forestry Sulawesi) yang didanai oleh Global Affairs of Canada dan diimplementasikan oleh ICRAF beserta mitranya dari tahun 2011 hingga 2017 di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo. Tujuan utama dari proyek AgFor adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui perbaikan kebun agroforestry dan sistem pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, dengan menghubungkan penelitian dan aksi nyata. Konsep penyuluhan agroforestry berbasis hasil penelitian diterapkan oleh ICRAF untuk mencapai tujuan dalam proyek AgFor. Kegiatan yang dilakukan bervariasi, mulai dari sekolah lapang agroforestri tentang pengelolaan kebun, pembuatan pembibitan tanaman unggul, pembuatan kebun belajar untuk pengelolaan kebun agroforestri yang baik, pelatihan pembuatan teras vegetasi alami, hingga pembangunan pusat informasi agroforestri di tingkat kecamatan. Program AgFor juga menjadikan petani terampil yang telah dibina sebagai aktor penyuluh untuk meningkatkan kapasitas petani lainnya. Pelaksanaan penyuluhan agroforestry pada proyek AgFor selain melibatkan penyuluh pemerintah juga lembaga penelitian di tingkat nasional seperti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Pusat Kajian Hortikultura IPB. Peneliti dari lembaga- lembaga penelitian tersebut diundang sebagai narasumber pada kegiatan sekolah lapang agroforestri dan melakukan diskusi langsung dengan petani serta penyuluh di lapangan tentang solusi dari hal-hal yang menjadi kendala petani dalam meningkatkan hasil kebunnya. Pendampingan secara intensif dilakukan untuk membantu petani dalam mempraktekkan informasi yang sudah diterima. Melalui kegiatan penyuluhan, pencapaian kegiatan AgFor adalah terjadinya peningkatan akses petani terhadap informasi agroforestri yang dijadikan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan pengelolaan kebun. Kegiatan penyuluhan dalam proyek AgFor ini dikategorikan berhasil karena pemerintah daerah telah memasukkan program dengan pendekatan serupa dengan proyek AgFor pada lokasi- lokasi yang tidak terlibat langsung dengan AgFor 

Kiat-kiat pelaksanaan penyuluhan agroforestri berbasis hasil penelitian


Proyek AgFor adalah salah satu dari banyak proyek yang sudah dilakukan ICRAF selama 24 tahun terakhir di Indonesia. Pembelajaran pun diperoleh dari kesuksesan dan kegagalan yang pernah diraih ICRAF diantaranya penyuluhan agroforestri berbasis hasil penelitian. Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan oleh ICRAF, beberapa hal perlu diperhatikan dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan penyuluhan agroforestri berbasis hasil penelitian di Indonesia, yaitu: a) Perlu dilakukan kemitraan antara petani terampil atau penyuluh swadaya, badan penyuluhan dengan lembaga penelitian agroforestri serta lembaga penelitian lainnya yang terkait dengan budidaya tanaman pepohonan. Petani terampil atau penyuluh swadaya sudah terbukti memiliki andil yang besar dalam membantu penyebaran informasi pertanian dan agroforestri. b) Penyuluh perlu menyiapkan metode penyuluhan yang tepat sesuai dengan kondisi petani yang akan dibina, terutama tingkat pendidikan. Petani yang memiliki tingkat pendidikan SD, cenderung lebih menyukai metode penyuluhan yang bersifat praktik langsung seperti melalui pembangunan kebun contoh, sedangkan tingkat SMP hingga perguruan tinggi, menyukai metode penyuluhan yang diawali dengan diskusi dan dilanjutkan dengan praktek. c) Peran penyuluh sangat penting dalam melakukan pendampingan secara intensif pada petani terutama untuk membantu petani mempraktekkan informasi yang sudah diperolehnya. Sering kali, informasi atau teknologi yang diperkenalkan terlalu kompleks untuk dipraktekkan secara langsung oleh petani. Pendampingan sebaiknya dilakukan untuk siapapun yang membutuhkannya terutama petani perempuan, anak-anak muda, dan petani miskin. d) Penyuluh sebaiknya mencatat dan mengevaluasi hal-hal yang dapat mendukung kesuksesan penyuluhan terutama yang terkait dengan tingkat adopsi teknologi yang diperkenalkan. Catatan ini dapat digunakan untuk memilih jenis-jenis informasi dan cara penyampaiannya yang cocok untuk etani binaan. e) Untuk mendukung terciptanya ketersediaan informasi terbaru, perlu ada pusat informasi agroforestri di tingkat kecamatan yang dapat dijadikan tempat untuk berbagi informasi antara penyuluh, petani dan peneliti. Dalam
melaksanakan kiat-kiat tersebut, tentunya perlu ada pemahaman dan kesepakatan bersama antara pihak pelaksana penyuluhan dan pengambil keputusan, baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Harapannya dengan melaksanakan kiat-kiat penyuluhan agroforestri berbasis hasil penelitian tersebut, dapat meningkatkan akses petani terhadap informasi inovasi agroforestri terbaru yang dapat digunakan oleh petani untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan peningkatan produktivitas kebunnya.

0 comments: