Thursday, 25 March 2010

Pemenang poster terbaik 2nd World Congress of Agroforestry


Oleh: Dudi Iskandar

Rawana tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun ketika namanya disebut sebagai pemenang “Best Poster for Integrative Approach” di depan sekitar 1000 peserta yang berasal dari 96 negara pada acara World Congress of Agroforestry (WCA) 2 di Nairobi, Kenya, bulan Agustus 2009. Rasa tak percaya bercampur gembira menyelimuti hatinya. Dia tak menyangka bahwa poster berjudul; “The study of Agarwood (Aquilaria filaria) plantation growth in the Merapi mountain area with agroforestry system in Sleman, Jogyakarta Province Indonesia” dipilih sebagai poster terbaik dari sekitar 300 judul poster lain yang dipajang di WCA.

Rawana, lulus sebagai Sarjana Kehutanan dari Universitas Gajah Mada tahun 1990, di bidang budidaya tanaman kehutanan dan lulus S2 tahun 1996 dari universitas yang sama. Sejak tahun 1991 sampai sekarang, Rawana menjadi dosen pada mata kuliah ekologi hutan dan silvikultur di Institut Pertanian STIPER Jogyakarta.

Bagi Rawana, penghasilan sebagai seorang dosen dianggap belum mencukupi untuk menghidupi rumah tangganya. Oleh karena itu, dengan berbekal ilmu pengetahuan budidaya tanaman kehutanan yang dimiliki, maka dia mencoba mengusahakan tanaman gaharu untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Sejak saat inilah, Rawana mulai tertarik dengan agroforestri. Tidak tanggung-tanggung, Rawana menggeluti gaharu mulai dari melakukan pembibitan, budidaya, penyuntikan, penyulingan dan jual beli gaharu dari berbagai pengumpul gaharu di luar Pulau Jawa. Semua kegiatan budidaya gaharu dilakukan di halaman rumahnya dan dilakukan pada waktu luang setelah mengajar. Kebunnya sekaligus digunakan untuk kegiatan penelitian dan bahan pengajaran bagi mahasiswanya, sehingga apa yang disampaikan kepada para mahasiswa adalah pengalaman sebagai praktisi di lapangan.

Kini kebun agroforestri gaharu binaan Rawana yang sekaligus menjadi tempat penelitian telah tersebar di berbagai lokasi seperti Banjarnegara, Purbalingga, Sragen, Malang dan Muntilan. Rawana juga menyediakan jasa dalam merancang kebun gaharu dan menyediakan bibit bagi para investor yang berminat menanam dan memproduksi gaharu. Setiap ada pesanan membuat kebun, Rawana selalu mengajak para mahasiswa dan petani untuk menyaksikan bagaimana dia merancang kebun gaharu. Dengan demikian kegiatan ini dapat menjadi bahan penelitian bagi mahasiswa dan pembelajaran bagi para petani sekitarnya. Semua kebun yang telah dibuat dicatat lengkap pertumbuhan dan segala aspek yang berkaitan dengan budidaya. Tak heran kalau pengalaman dan pengetahuanya semakin bertambah. Bahkan, untuk memperluas jaringan dan penyebaran informasinya Rawana mengelola website tentang gaharu di www.alam tropika.com.

Konsep agroforestri yang diterapkan Rawana berawal dari upaya menambah penghasilan sebelum tanaman gaharu sebagai tanaman utama tersebut menghasilkan. Konsep ini dia terapkan dalam bentuk agroforestri sebagai berikut:

(1) Silvopastur, yaitu memadukan tanaman gaharu dengan peternakan kambing Otawa. Untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi ternak kambingnya, Rawana menanam lamtoro di sela-sela tanaman gaharu. Sementara itu, dari ternak kambingnya dihasilkan kotoran yang dijadikan pupuk untuk gaharu, susu dan daging kambingnya dijual. Daun gaharu, khususnya jenis Acqularia filaria yang muda bisa dijadikan minuman seperti teh

(2) Tanaman gaharu dikombinasikan dengan pohon salak. Bentuk agroforestry ini menurut penelitian Rawana menghasilkan pertumbuhan yang cukup bagus. Tanaman gaharu dipanen setelah 10 tahun, tetapi pada umur tiga tahun daun mudanya dapat diambil untuk dibuat minuman. Sembari menunggu tanaman gaharu dipanen, Rawana sudah dapat memanen tanaman salaknya, karena salak sudah mulai berproduksi pada umur tiga tahun

(3) Agroforestry gaharu dengan kopi. Rawana berkeyakinan bahwa sistem monokultur dianggap kurang bagus untuk pertumbuhan gaharu, karena tanaman ini bersifat toleran dan perlu kelembaban yang tinggi di awal pertumbuhannya.Oleh karena itu, ia mencoba menggabungkan tanaman gaharu dengan kopi. Seperti halnya salak, kopi juga sudah mulai menghasilkan sebelum gaharu dipanen.

Selain mendapatkan keuntungan dari produk yang dipanen seperti gaharu, kopi, salak dan hasil ternak kambing, Rawana dapat menawarkan jasa berupa keindahan alam berbasis agroforestri (agrowisata). Pada pola agroforestri gaharu ini pengunjung bisa melihat cara pembudidayaan gaharu, sambil menikmati salak, susu kambing, teh gaharu dan pemandangan alam yang indah. Tentunya, agrowisata berbasis agroforestry gaharu ini dapat menghasilkan tambahan penghasilan di samping produk utamanya yaitu gaharu. Tidak hanya agrowisata berbasis agroforestry gaharu di kebunnya saja yang dikelola, saat ini Rawana sedang merintis pengembangan ekoturism berbasis agroforestri gaharu yang diintegrasikan dengan ciri-ciri dan budaya lokal yang unik Pengembangan kampung-kampung gaharu mulai dirintis di desa sekitar tempat tinggalnya.

Langkah Rawana tidak hanya berhenti di kebun gaharu, kampus tempat dia mengajar maupun kampung-kampung gaharu di desa sekitarnya. Namun dia ingin mengembangkan sayapnya untuk menjangkau forum ilmiah internasional di luar negeri. Maka dari itu, ketika ada berita tentang World Congress of Agroforestry dia mencoba mengirimkan ringkasan hasil penelitiannya (abstrak) tentang agroforestri gaharu. Keterbatasan dalam Bahasa Inggris tidak menyebabkan dia menyerah. Meskipun sebetulnya dia bisa minta bantuan temannya yang sudah biasa membuat publikasi ilmiah dalam Bahasa Inggris, tetapi Rawana memilih membuat sendiri dengan alasan kalau dibantu, takutnya nanti akan kesulitan jika ditanya atau harus menjelaskan.

Rawana mencoba menuliskan setiap kalimat dalam poster dengan bentuk yang sederhana, sehingga poster ini merupakan bentuk curahan pengalamannya membudidayakan gaharu dengan pola agroforestry yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Jika dibaca, poster tersebut mengalir seperti mendengarkan cerita mengapa Rawana memilih agroforestri gaharu, bagaimana memulai menanam, mengukur, menelitinya, dan menyampaikan ulasan hasilnya. Semuanya disampaikan dengan kata-kata sederhana yang disertai grafik dan gambar-gambar yang juga sederhana tetapi penuh cerita. Apalagi penelitian tersebut dilakukan langsung di kebun oleh seorang dosen beserta para mahasiswa dan juga para petani asuhanya, jadi lebih aplikatif. Selain itu, konsep integrasi berbagai komiditi dalam suatu lahan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesinambungan pendapatan petani merupakan hal yang sangat menarik. Terlebih lagi, konsep tersebut juga mengakomodir nilai budaya petani setempat. Sederhana: integratif, aplikatif dan akomodatif. Tak heran kalau posternya menjadi yang terbaik. Dengan melihat poster tersebut ada suatu makna yang dapat kita ditangkap, yaitu ”konsep agroforestri gaharu mempunyai banyak manfaat”.

Jerih payah Rawana tidak sia-sia. Agroforestri gaharu yang semula hanya dijadikan sebagai usaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan ternyata membawa keberuntungan yang tidak disangka-sangka. Poster yang dia buat sebagai sarana untuk menyebarkan informasi dan menambah pengalaman di ajang internasional ternyata menjadi pemenang dalam Konggres Agroforestry sedunia. Apalagi, peristiwa ini merupakan pengalaman pertama bagi Rawana ikut dalam forum ilmiah di luar negeri dan dia juga belum pernah ke luar negeri sebelumnya kecuali waktu naik haji ke Mekah.

Selamat Pak Rawana, teruskan kiprah anda di dunia penelitian dan pengajaran, baik dari tingkat petani di desa sampai arena internasional. Tidak terbatas hanya pada agroforestri gaharu, semoga inovasi-inovasi baru tentang agroforestri lainnya akan lahir dari tangan anda.

No comments:

Post a Comment